Breaking

Sunday, 25 December 2011

Ulama' Su' Vs Ulama' Akhirat

Dalam firman Allah QS. Fathir (35) : 28) "Sesungguhnya yang takut (bercampur kagum) kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama'. sesungguhnya Allah maha Perkasa lagi Maha Pengampun".

Kata "ulama'" adalah bentuk jamak dari kata "'alim" yang terambil dari asal kata 'alima yang berarti mengetahui secara jelas. Oleh karena itu, semua kata yang berhubungan dengan huruf 'ain, lam, dan mim, selalu menunjuk pada makna kejelasan, seperti 'alam (bendera), 'alam(alam raya, makhluk yang memiliki rasa dan atau kecerdasan), 'alamah (alamat).

Kata Ulama' ditemukan dalam A-Quran dua kali. Pertama, dalam surat QS Al-Syu'ara', yang kedua, QS Fatir (35).

Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa, "para ulam' adalah ahli waris para nabi." Dalam konteks ini QS Fathir (35) : 32 menegaskan bahwa, Kemudian Kami wariskan kitab suci  kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami. Maka ada diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan ada juga yang pertengahan, dan ada juga yang bergegas melakukan kebajikan (QS Fathir [35] : 32) .

Kitab suci Al-Quran yang diwarisi oleh para nabi. secara garis besar, ada empat tugas yang harus dilaksanakan oleh ulama'. Pertama, menyampaikan ajaran kitab suci (tabligh), kedua, menjelaskan kandungan kitab suci, ketiga, memberi putusan dan solusi problem dan perselisihan dalam kehidupan masyarakat, dan keempat, yaitumemberi contoh sosialisasi dan keteladanan.

 Al-Ghazali membagi ulama ke dalam dua kategori : ulama su’ dan ulama akhirat. Yang pertama adalah ulama yang hanya disibukkan dengan mencari kekayaan dan kekuasaan. Sebagai antitesisnya adalah ulama akhirat yang memiliki sifat dan karakteristik sebaliknya.

Ulama su’ menganggap kekuasaan dan kekayaan sebagai tujuan. Berbeda dengan ulama akhirat yang menjadikan keduanya sebagai “musuh” yang harus dilawan. Dengan berpaling dari kekuasaan dan kekayaan, seorang ulama akan betul-betul merasakan penderitaan, kemiskinan, ketertindasan sebagaimana yang dialami oleh mereka yang tertindas, (di)miskin(kan), dan (di)lemah(kan), mustad’afin.

Dengan demikian seseorang dikatakan ulama tidaklah dilihat dari wajahnya, pakaiannya, gelarnya, julukannya, ataupun turunannya, melainkan dari ilmu dan keempat tugas ulama' tadi. Boleh jadi seseorang tidak digelari ulama, sebenarnya dia ulama. Begitu pula, seseorang yang disebut ulama sangat mungkin di sisi Allah SWT bukanlah ulama.
Sebagaimana dimaklumi, kewajiban terbesar umat Islam hari ini adalah mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat dengan menegakkan seluruh syariah Allah SWT. Sebaliknya, kemungkaran terbesar yang wajib ditumbangkan saat ini adalah sistem thâghût yang menerapkan hukum-hukum kufur buat manusia. Itulah sistem sekular yang tengah berlangsung saat ini.
Karena itu, saat ini umat benar-benar membutuhkan ’ulama akhirat’ yang bisa membimbing mereka untuk kembali pada Islam secara kâffah sambil terus-menerus memberikan dorongan dan dukungan terhadap perjuangan ke arah penegakkan syariah Islam. Umat membutuhkan ulama yang meneladani perjuangan Rasulullah saw. dalam mewujudkan masyarakat islami, yang menerapkan syariah Islam secara total dalam semua aspek kehidupan, dalam Daulah Khilafah. Hanya dengan itulah cita-cita umat mewujudkan baldat[un] thayyibat[un] warabb[un] ghafûr akan benar-benar terwujud, insya Allah.
Rasulullah saw bersabda, “Manusia yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya karena Allah.”

Dalam hadits lain beliau bersabda, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah benar jalannya, maka ia semakin jauh dari Allah.”

No comments:

Post a Comment