Breaking

Sunday, 5 February 2012

Refleksi Maulid Nabi dalam Membangun Karakter Bangsa

Hari kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad SAW diperingati 12 Rabiulawal 1433 Hijriyah bertepatan Minggu 5 Februari 2012. Momentum yang diperingati umat Islam setiap tahun. Momentum ini merupakan momen yang paling pas untuk merefleksikan diri, dan berkiblat kepada Rasulullah Saw. untuk membangun karakter bangsa yang relevan dengan syariat agama. Membangun  karakter dewasa ini semakin menarik untuk diperhatikan sebagai upaya mengentaskan permasalahan krusial bangsa dalam membangun budaya yang berkarakter.  Bicara terkait pengembangan karakter tentunya akan semakin berbobot manakala menghimpun dari beragam perspektif, utamanya perspektif agama dan secara khusus agama Islam. Pembangunan karakter selaras dengan tugas utama diutusnya Nabi Muhammad Saw. ke muka bumi yaitu "innama buistu liutammima makarimal akhlak".
 
Karakter yang dalam bahasa agama disebut dengan akhlak merupakan kepribadian yang memengaruhi keseluruhan sikap dan perilaku manusia. Akhlak mulia atau karakter kuat tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap individu begitu ia dilahirkan, namun memerlukan proses panjang melalui faktor  nature  dan nurture. Faktor nature (faktor alami atau fitrah) bersifat potensial yang mengandung pengertian bahwa setiap manusia memiliki kecendrungan (fitrah) untuk mencintai kebaikan, namun belum termanifestasikan ketika anak terlahir. Adapun faktor nurture (pendidikan dan lingkungan) bersifat aktual. Fitrah yang ada pada manusia tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pendidikan (Megawangi, 2004).

Konsep membangun karakter (character building) dalam Islam diadopsi dari keseluruhan perjalanan hidup Rasulullah dari lahir hingga wafat. Sebagai pengemban amanat risalah nabawiyah yang bertugas menyempurnakan akhlak manusia,  Rasulullah memiliki karakter luar biasa yang menjadi suri tauladan bagi umat manusia.   Karakter kuat yang dimiliki Rasulullah tidak terbentuk secara instan sebagai sebuah mukjizat semata, namun terbentuk melalui proses panjang yang dapat dipelajari dan diterapkan oleh umat manusia.

Proses menjadi insan berkarakter tidak dilalui Rasullah secara mudah melalui kesenangan dan kegelimangan harta, namun dilaluinya dengan penuh kesabaran. Rasulullah menempuh proses kehidupan yang benar sesuai dengan sunatulah. Karakter-karakter yang dimilikinya  merupakan buah dari pendidikan ketika masih kecil dan remaja. Predikat yatim tidak membuat beliau tersisih dari kehidupan, bahkan sebaliknya menjadikannya tokoh paling berpengaruh nomor wahid di seluruh dunia. Di tangan ibunya terbentuk karakter kasih sayang dan  kesabaran. Di tangan kakeknya terbentuk  karakter bijak. Di tangan pamannya terbentuk karakter kepemimpinan yang merakyat dan demokratis, serta berdampingan dengan istri tercinta, Siti Khadijah, karakter entrepreneurship yang dimilikinya semakin terasah.

Karakter yang berkualitas adalah sebuah respons yang teruji berkali-kali dan berbuahkan keberhasilan. Seseorang yang berkali-kali melewati kesulitan dengan keberhasilan akan memiliki kualitas yang baik. Tidak ada kualitas yang tidak diuji. Apabila  ingin berkualitas, tidak ada cara yang lebih ampuh kecuali menempuh ujian. Ujian bisa berupa tantangan, tekanan, kesulitan, penderitaan, hal-hal yang tidak kita sukai. Jika kita berhasil melewatinya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali, kita akan memiliki kualitas tersebut (Saifuddin Dhuhri, 2010).

Karakter yang semakin mnjauh dari bangsa ini salah satunya adalah keberanian menghadapi tantangan. Padahal telah menjadi sunatulah bahwa orang yang mampu menjawab tantangan dan keluar dari cobaan adalah orang yang berhasil dan memperoleh derajat yang tinggi. Manusia besar selalu hidup  penuh dengan cobaan dan tantangan. Perbedaan antara manusia biasa dengan manusia luar biasa adalah terletak pada cara memandang cobaan dan tantangan tersebut.

Rasulullah selalu memandang cobaan dan tantangan sebagai ujian dari Allah SWT serta senantiasa menghadapi ujian tersebut sebagai kehormatan dan anugerah. Bukan keluhan yang keluar dari bibirnya  dalam menghadapi cobaan dan tantangan, namun justru puji-pujian terhadap anugerah tersebut.
Terdapat sebuah ungkapan  yang dapat kita renungkan bersama yaitu kebudayaan besar selalu lahir dari masyarakat yang  mempunyai sejarah tantangan besar pula. 

Sebagaimana kita melihat bangsa Mesir yang terkenal sejak dahulu dengan keahliannya dalam bidang irigasi lahan pertanian. Setiap tahun mereka menghadapi tantangan banjir besar dari Sungai Nil yang selalu menghancurkan ribuan hektare lahan pertanian mereka. Demikian juga dengan masyarakat negara kincir angin, Belanda, yang dikenal keahliannya dalam bidang dam atau bendungan karena daerah mereka berada di bawah permukaan laut.

Dengan demikian, tidak mustahil bangsa Indonesia yang saat ini ditimpa banyak musibah akan menjadi bangsa yang besar ketika mampu menjawab tantangan tersebut. Yang dibutuhkan bangsa ini hanyalah kesabaran, doa dan kerja keras  menemukan jalan keluar dengan mengoptimalkan potensi yang telah diberikan Allah Swt. Tantangan akan selalu memunculkan ide-ide cerdas untuk mengatasi masalah yang terjadi, dan alam akan senantiasa mengajari manusia untuk berkreasi dan berinovasi.

Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari karakter pemimpinnya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah, dengan berbekal karakter kuat beliau mampu mengubah  masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang penuh dengan akhlakul karimah. Sesungguhnya pribadi yang baik pasti akan memunculkan sikap dan perilaku yang baik pula.

Krisis kepemimpinan yang sedang melanda bangsa ini tidak lepas dari krisis karakter para pemimpinnya. Model kepemimpinan yang korup dan senantiasa  membodohi rakyat menjadi rahasia umum di negeri ini. Para pemimpin seakan tidak mempunyai kekuatan untuk mengatur negeri ini, karena karisma dan kekuatan moral sudah tidak lagi dimiliki. Apalagi dalam menempatkan posisi pejabat dibawahnya hanya mengedepankan kontrak politik semata. Apa yang mereka kerjakan justru mendatangkan laknat, bukan rahmat. Inilah potret sebuah negeri yang dipimpin oleh orang-orang yang tidak memiliki karakter amanah.
 
Sudah saatnya kita memperbaiki diri. Karakter Rasulullah merupakan cermin karakter Alquran dapat menjadi teladan bagi kita semua sebagai dasar untuk bersikap dan bertindak. Sebenarnya tidak sulit bagi kita untuk mencontoh karakter Rasulullah karena beliau berasal dari jenis kita sendiri, yaitu seorang manusia biasa yang mempunyai kemampuan dasar dan hawa nafsu yang sama dengan kita.
 
Sudah seharusnya kita mengambil suri teladan apa yang ada pada diri Rasulullah dengan penuh kecintaan. Cinta identik dengan kedekatan. Kedekatan identik dengan keserupaan. Ketika seseorang  mencintai orang lain, ia akan berusaha untuk dekat dengannya. Dalam kedekatannya tersebut ia juga berusaha untuk serupa dengan sifat, sikap dan perilaku orang yang dicintainya. Cinta juga identik dengan menyebut namanya. Dengan bersholawat mengharap ridlo Allah. Inilah bentuk kongkret kecintaan kita terhadap Rasulullah.  Mudah-mudahan kita semua mendapat syafat Rasulullah kelak di hari akhir dan dikumpulkan di surganya Allah dengan beliau. Amiiin.

No comments:

Post a Comment