Breaking

Saturday, 23 June 2012

TIADA DUSTA YANG TAK TERHAKIMI


"Tidak semua orang berani bicara jujur terhadap apa yang dilihat dan harus disampaikan. Hidup adalah pilihan"

Hidup adalah pilihan
Ada banyak pilihan untuk berdusta, tapi satu pilihan saja untuk jujur. Seorang  anak SD yang nilai ulangannya hancur, akan dihadapkan pada berbagai pilihan tadi. Pertama, bisa saja dia merobek hasil ulangan, membuang di tempat sampah dan mengatakan kepada orang tuanya bahwa ulangan belum dilaksanakan. Atau, kedua, bisa juga sesampainya di rumah dia mengatakan bahwa mendapat nilai bagus, namun sang guru tidak membagikan hasil  ulangannya. Banyak sekali, bukan? Ketiga, keempat, dan seterusnya.

Kondisi berbeda akan dia hadapi jika memilih untuk berkata jujur. Dalam hal ini, maka tak ada pilihan baginya, kecuali mengatakan apa adanya. “Bu, maaf, nilai ulangannya jelek. ibu jangan marah, ya,“ begitu pilihan satu-satunya. Tidak ada yang lain.
Ada cerita menarik  tentang dusta dan jujur. Dalam dunia pewayangan, orang mengenal Yudistira sebagai sosok yang sangat jujur dan tidak sekali pun berkata dusta. Sayang, semua itu harus dinodai saat terjadi perang Baratayudha. Ketika itu Yudistira harus berbohong, di saat perang terus berkecamuk. Hal itu dipicu karena belum ada yang kalah dan menang meski kedua
belah pihak sama-sama telah banyak kehilangan ksatrianya. Bisma yang bijak telah gugur, begitu juga Gatotkaca yang perkasa.

Salah satu penyebab mengapa Pandawa sulit menang, adalah keberadaan Resi Dorna. Sebagai senapati Kurawa, Dorna banyak menumpas ksatria Pandawa. Jika tidak dihentikan, maka ksatria Pandawa bisa habis.

Melihat itu, Kresna yang menjadi penasihat perang Pandawa pun gusar. Dia lalu mencari akal, bagaimana membunuh Dorna. Salah satu yang terbersit adalah, bahwa Dorna sangat sayang pada anaknya, Asatthama. Jika dia mendengar Asatthama tewas, tentu dia bersedih dan meletakkan senjata. “Seseorang harus mengatakan kepada Dorna bahwa asatthama tewas!” begitu akhirnya Kresna menyarankan. Ini ide gila! Arjuna tak sanggup berbohong, terlebih Dorna adalah mantan guru yang dihormatinya.

Begitu juga dengan saudara yang lain, Bima, nakula, dan Sadewa. Suasana benar-benar tegang! “Aku akan pikul dosa ini,” tiba-tiba Yudistira angkat bicara. Yudistira pada akhirnya memang berbohong kepada Dorna. Sedangkan di sisi lain, Dorna percaya karena yang mengabarkan berita kematian Asatthama adalah Yudistira yang selama ini dikenal sangat jujur.

Mendengar kabar itu, Dorna pun patah semangat sehingga berhasil dibunuh Pandawa. Ya, begitulah. Memang susah berlaku jujur, meski bukan mustahil dilakukan. Selalu saja ada godaan untuk berbohong, terlebih jika kebohongan itu demi kekuasaan, kekayaan, popularitas, dan sebagainya.

Yang banyak orang tak sadar, ternyata baik jujur maupun dusta, keduanya sama-sama memiliki risiko. Seperti contoh anak SD tadi, bisa saja dengan berdusta, dia untuk sementara bisa menghindar dari kemarahan orang tua. Namun, bagai mana jika dustanya terbongkar?

Malu, berusaha menutupi dengan dusta yang lain, adalah risiko berat yang menghadang. Padahal di sisi lain, jika dia berkata jujur apakah sang orang tua su dah pasti akan marah? Mungkin ya, namun bisa juga malah memberi apresiasi atas keberaniannya berkata jujur.

Risiko itu sama seperti yang dipikul Yudistira. Di satu sisi memang akhirnya Pandawa memenangkan peperangan. Namun, jangan lupa kemenangan itu harus dibayar mahal karena nama baik mereka menjadi tercemar dan Yudistira pun harus menanggung dosa. Maka, berbuat jujurlah. Karena sesungguhnya tidak ada kejujuran yang sia-sia dan tak ada dusta yang tak terhakimi. 

www.kpk.go.id

No comments:

Post a Comment