Dalam QS. Al-Isra' ayat 79 yang artinya "Dan pada
sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu;
Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
Awalnya,
sholat ini wajib bagi kaum muslimin. Setelah turun perintah sholat lima waktu,
sholat ini menjadi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi kaum
muslimin. Sedangkan khusus bagi Rasulullah, sholat ini hukumnya wajib sehingga
beliau tidak pernah meninggalkannya.
Keutamaan
Sholat Tahajud
Keutamaannya
sangat luar biasa, yang membuat kita seharusnya termotivasi untuk membiasakan
diri mengamalkannya.
1. Kedudukan
Terpuji
Sebagaimana
firman Allah dalam surat Al Isra ayat 79 di atas, siapa yang ahli sholat
tahajud akan diangkat Allah ke tempat/kedudukan terpuji.
2. Kunci
Masuk Surga
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sebarkanlah
salam, berilah makan (orang-orang yang membutuhkan), sambungkanlah
silaturrahim, dan shalatlah pada malam hari ketika orang lain sedang tidur;
niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi)
3. Sholat
Sunnah Paling Utama
Tahajud yang
juga disebut qiyamul lail atau sholat lail merupakan sholat sunnah yang paling
utama. Sebagaimana sabda Rasulullah:
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ قِيَامُ
اللَّيْلِ
“Sholat yang paling afdhol setelah sholat fardhu adalah
sholat malam” (HR. An Nasa’i)
4. Kemuliaan
dan Kewibawaan
Selain
mendapatkan kedudukan mulia di akhirat kelak, orang-orang yang ahli shalat
tahajud juga akan mendapatkan kedudukan yang mulia di dunia. Allah akan
memberinya kemuliaan dan kewibawaan.
وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْـمُؤْمِنِ قِيَامُهُ
بِاللَّيْلِ
“Dan ketahuilah, bahwa kemuliaan dan kewibawaan seorang
mukmin itu ada pada shalat malamnya” (HR. Hakim; hasan)
5. Doanya
Dikabulkan
Orang yang
mengerjakan sholat tahajud kemudian berdoa, insya Allah doanya dikabulkan
Allah. Apalagi jika ia melakukannya di sepertiga malam yang terakhir.
6. Kebiasaan
Orang Shalih
Sholat ini
merupakan kebiasaan orang-orang shalih terdahulu. Maka siapa yang saat ini
senantiasa mengerjakannya, maka ia pun tercatat sebagai orang-orang yang shalih
sebagaimana mereka.
“Biasakanlah dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi
orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa,
menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)
7. Penghapus
dan Pencegah Dosa
Setiap orang
pasti memiliki dosa. Dosa-dosa yang kecil bisa berguguran dengan menjalankan
sholat sunnah ini sebagaimana hadits di atas.
Yang lebih
istimewa lagi, tahajud juga bisa mencegah seseorang dari perbuatan dosa. Orang
yang melazimkan tahajud akan mendapatkan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
sehingga dirinya terjauhkan dari maksiat dan dosa.
8. Menolak
Penyakit
Di antara
keutamaan tahajud adalah menolak penyakit. Dengan izin Allah, orang-orang yang
mengamalkan shalat sunnah ini akan dijaga kesehatannya dan dijauhkan dari
penyakit. Keutamaan ini telah terbukti secara medis. Baca: Rahasia Shalat
Tahajud
Waktu
Sholat Tahajud
Tahajud
adalah shalat sunnah yang dikerjakan setelah tidur. Waktunya terbentang mulai
setelah isya’ hingga sebelum Subuh, dengan didahului tidur. Dan waktu paling
utamanya adalah di sepertiga malam yang terakhir.
Tata Cara
Sholat Tahajud
Tata cara
sholat tahajud pada dasarnya sama dengan sholat sunnah pada umumnya. Sebelum
sholat disyaratkan suci dari hadats kecil dan hadats besar; suci badan, pakaian
dan tempat dari najis; menutup aurat; dan menghadap kiblat.
Sayyid Sabiq
dalam Fiqih Sunnah menerangkan, hendaklah sebelum tidur berniat untuk bangun
sholat tahajud sehingga jika ia tertinggal (tidak bisa bangun), tetap mendapat
pahalanya.
Syaikh
Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adilatuhu menjelaskan, sebelum memulai
sholat tahajud, disunnahkan untuk memakai siwak. Juga disunnahkan mengawalinya
dengan dua rakaat ringan.
Sholat
tahajud dikerjakan dua rakaat salam, dua rakaat salam. Para ulama berbeda
pendapat mengenai batasan jumlah rakaatnya. Rasulullah terkadang melaksanakan
11 rakaat termasuk witir dan terkadang 13 rakaat termasuk witir.
Secara
ringkas, tata caranya sama dengan sholat sunnah dua rakaat pada umumnya, yaitu:
Niat
Takbiratul
ihram, diikuti dengan doa iftitah
Membaca
surat Al Fatihah
Membaca
surat atau ayat Al Qur’an. Rasulullah biasa membaca surat yang panjang-panjang.
Ruku’ dengan
tuma’ninah
I’tidal
dengan tuma’ninah
Sujud dengan
tuma’ninah
Duduk di
antara dua sujud dengan tuma’ninah
Sujud kedua
dengan tuma’ninah
Berdiri lagi
untuk menunaikan rakaat kedua
Membaca
surat Al Fatihah
Membaca
surat atau ayat Al Qur’an. Rasulullah biasa membaca surat yang panjang.
Ruku’ dengan
tuma’ninah
I’tidal
dengan tuma’ninah
Sujud dengan
tuma’ninah
Duduk di
antara dua sujud dengan tuma’ninah
Sujud kedua
dengan tuma’ninah
Tahiyat
akhir dengan tuma’ninah
Salam
Demikian
diulangi hingga empat kali salam (delapan rakaat). Kemudian berdoa. Dan setelah
itu ditutup dengan sholat witir.
Baca juga:
sholat dhuha
Niat Sholat
Tahajud
Semua ulama
sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Melafalkan niat bukanlah suatu syarat.
Artinya, tidak harus melafalkan niat. Namun menurut jumhur ulama selain madzhab
Maliki, hukumnya sunnah dalam rangka membantu hati menghadirkan niat.
Sedangkan
dalam madzhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafalkan niat karena tidak
ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam
madzhab Syafi’i, niat sholat tahajud dilafalkan sebagai berikut:
niat sholat
tahajud
Usholli
sunnatat tahajudi rok’ataini lillahi ta’aalaa
“Aku niat sholat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah
Ta’ala”
Doa Sholat
Tahajud
Doa setelah
sholat tahajud insya Allah dikabulkan oleh-Nya. Terlebih jika dikerjakan di
sepertiga malam yang terakhir, waktu paling istijabah untuk berdoa.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ
إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ
يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى
فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit
dunia ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman:
“Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya.
Barangsiapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Dan
barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” (HR.
Bukhari)
Maka apa pun
permintaan seorang hamba, mohonkanlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baik
kebutuhan dunia maupun kebutuhan akhirat. Terutama meminta ampun kepada Allah
Subhanahhu wa Ta’ala karena bacaan paling utama di sepertiga malam terakhir
adalah istighfar.
Rasulullah
juga mengajarkan doa khusus untuk sholat tahajud. Yakni doa sholat tahajud yang
dibaca sebagai doa iftitah:
Pertama,
dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:
doa sholat
tahajud
اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ
فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ،
وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، أَنْتَ
الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ
حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ،
اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ،
وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا
قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ
وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، أَنْتَ إِلٰهِيْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ
Ya Allah,
hanya milik-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang
ada di sana. Hanya milikMu segala puji, Engkau yang mengatur langit dan bumi
serta siapa saja yang ada di sana. Hanya milikMu segala puji, Engkau pencipta
langit dan bumi serta siapa saja yang ada di sana. Engkau Maha benar, janji-Mu
benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar. Surga itu benar, neraka itu
benar, dan kiamat itu benar.
Ya Allah,
hanya kepada-Mu aku pasrah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu
aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan petunjuk-Mu aku
berdebat, hanya kepada-Mu aku memohon keputusan, karena itu, ampunilah aku atas
dosaku yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan sembunyi-sembunyi
maupun yang kulakukan terang-terangan. Engkau yang paling awal dan yang paling
akhir. Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. (HR.
Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)
Kedua, dari
riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha:
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ
فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ
بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ
مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Ya Allah,
Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui
yang gaib dan yang nampak. Engkau yang memutuskan diantara hamba-Mu terhadap
apa yang mereka perselisihkan. Berilah petunjuk kepadaku untuk menggapai
kebenaran yang diperselisihan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi
petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus. (HR.
Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud)
Doa tersebut
dibaca Rasulullah saat mengawali sholat tahajud, yakni dibaca sebagai doa iftitah.
Adapun doa
setelah sholat tahajud, kita bebas berdoa dengan segala doa yang baik. Terutama
doa dari Al Quran dan Hadits. Boleh juga doa kita sendiri, bahkan yang
berbahasa Indonesia juga tidak dilarang.
Motivasi
Sholat Tahajud
Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Keutamaan sholat malam dibanding sholat di
siang hari seperti keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi dibanding sedekah
terang-terangan.”
Aisyah
radhiyallahu ‘anha berkata, “Hendaklah kalian mengerjakan qiyamullail karena
Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit, maka beliau
mengerjakannya sambil duduk.”
Abu Dzar Al
Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rajinlah mengerjakan sholat tahajud di
kegelapan malam untuk menghadapi sepi dan gelapnya di alam kubur.”
Sa’id bin
Musayyab rahimahullah mengatakan, “Sungguh orang yang bangun malam lalu
menunaikan sholat tahajud, Allah akan memberikan kepadanya wajah yang berseri
hingga dicintai oleh setiap muslim.”
Yahya bin
Muadz rahimahullah mengatakan, “Kami tidak pernah mendapati keutamaan yang
lebih utama daripada sholat malam.”
Tsabit Al
Banani rahimahullah mengatakan, “Seseorang tak bisa disebut sebagai ahli ibadah
meskipun ia mengerjakan berbagai amal kebajikan sampai ia mengerjakan dua
perkara yakni sholat tahajud di malam hari dan puasa sunnah di siang hari.
Karena keduanya merupakan darah daging baginya.”
Menjelang
wafat, Amir bin Qais menangis. Ketika ditanya apa sebabnya, ia menjawab: “Aku
menangis bukan karena takut mati dan bukan karena tamak terhadap dunia. Aku
menangis karena merasa kurang puasa dan sholat malam.”
Wallohua’lambisowaf
No comments:
Post a Comment